Kisah Panji yang Meresap dalam Tarian dan Kehidupan

ZonaAsia – Tubuh tegap dengan jari-jari yang indah mulai menari. Awalnya ia hanya memegang topeng dan menatapnya dengan tajam. Kemudian, mulai mengenakan topeng tersebut, ditambah mahkota, selendang dan manik-manik hijau pagi itu.

Budi Utomo, penari berusia 54 tahun berperan menjadi Panji, tokoh pembawa kedamaian dalam cerita Jawa. Tarian ini dikenal sebagai Tari Panji, warisan dari abad ke-13.

Tari topeng
Budi Utomo memegang topeng panji.

Panji adalah tokoh di kenal dengan kebaikannya, yang salah satunya diimplementasikan dalam tarian. Tokoh ini identik tanpa keris, sehingga karakternya menjadi pahlawan kedamaian Jawa.

“Saya mulai belajar nari tahun 1975 dulu mulai dikenalkan tari panji, pada umumnya kalau mau pegelaran jejeran jawa dulu tokohnya, lembu amilihur, Panji. Panji itu tokoh yag lemah lembut, merakyat.” Kata Budi Utomo.

Sosok ini menginspirasi Budi untuk mengikuti jejak Panji. Bagi Budi, menari adalah ungkapan rasa syukur yang murni kepada ibu pertiwi, jiwa dan alam semesta.

Tariannya lembut, warna hijau menciptakan harmoni dan dalam mitologi Jawa ada yang mengatakan bahwa panji adalah simbol kesuburan.

Seperti pada buku berjudul “Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit”. Disebutkan cerita Panji melambangkan keseburan.

Tari Topeng Panji

Tari topeng bertemakan Panji yang dilakukan oleh Budi ini, diawali dengan sebuah pembacaan mantra dan pembakaran dupa.

Ritual jawa

Ini dilakukan karena sudah menjadi tradisi, dia juga bercerita. Ada perasaan yang kurang jika melakukan tarian dengan menggunakan topeng tanpa ada sebuah ritual.

Ketika di ladang, Budi mengatakan ketika pasca panen banyak hal yang dilakukan sebagai ungkapan terimakasih. Salah satunya melalui tarian ini, pada masa kuno digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur.

Tari panji

Pertanian di Jawa

Masyarakat pertanian di pulau jawa hingga saat ini juga masih kental dengan sebuah tradisi dalam berbagai aspek.

Selain tari, ada sebuah wiwitan jelang masa panen tiba. Tradisi leluhur turun temurun ini, biasa digelar sebagai rasa syukur atas  anugerah Tuhan Yang maha Kuasa yaitu berupa hasil panen yang bagus.

petani

Tradisi wiwitan biasa digelar di areal persawahan yang sudah siap panen dengan dipimpin tetua di kampung tersebut. Ritual ini digelar sebagai wujud terima kasih dan rasa syukur kepada bumi sebagai ‘sedulur sikepi’, dan Dewi Sri (Dewi Padi) yang dipercaya telah melimpahkan rizki kepada para petani.

 

spot_imgspot_img

Subscribe

Related articles

5 Rekomendasi Hotel Terbaik di Jogja, Menikmati Keindahan dan Kenyamanan

ZonaAsia - Rekomendasi hotel terbaik di Jogja berikut, menawarkan...

They.We, Kulit Cerah Berseri Cocok Untuk Anak Muda

ZonaAsia - Saat ini, remaja tidak perlu lagi merasa...

Rekomendasi Wisata Thailand untuk Solo Traveler

ZonaAsia - Ada beberapa rekomendasi wisata Thailand untuk Solo...

7 Rekomendasi HP Harga 3 Jutaan: Pilihan Tepat untuk Kebutuhan Anda

ZonaAsia - Rekomendasi handphone (HP) berkualitas di angka 3...

5 Kampus Terbaik di Asean Tahun 2024, Salah Satunya dari Indonesia

ZonaAsia - Terdapat beberapa Kampus Terbaik di Asean yang...
spot_imgspot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here